Saat membaca hasil Global Gender Gap Index, saya teringat pada buku Broken Strings yang dibuat oleh Aurelie Moeremans. Buku ini mengingatkan saya bahwa ketimpangan jender sering tidak selalu terlihat sebagai “angka”, tetapi terasa dalam bentuk yang sangat nyata: siapa yang punya kuasa, siapa yang merasa aman, dan siapa yang punya ruang untuk mengambil keputusan. Dan di titik inilah, gender equality dan women empowerment bukan teori, tapi pengalaman hidup. Broken Strings memperlihatkan bagaimana relasi kuasa dapat membatasi pilihan seorang perempuan baik dalam ruang personal maupun ruang publik. Dalam konteks ini, kesenjangan gender bukan hanya soal peluang promosi, tetapi juga soal rasa aman dan keberanian untuk bersuara. Ketika lingkungan kerja atau sosial tidak aman, perempuan bisa “hadir” dalam sistem, tetapi tidak sepenuhnya “berdaya” di dalamnya.
Menurut World Economic Forum dalam laporan tahunan tentang indeks jender global, melaporkan bahwa di tahun 2025 Indonesia memiliki jender indeks di skor 0,692 yang artinya telah berhasil menutup gender inequality sebesar 69,2% dan masih memiliki pekerjaan rumah tersisa sebesar 30,8%. Sedikit turun dari skor di tahun 2020.
Kalau dilihat dari grafik dibawah ini, Indonesia menduduki ranking ke 97 di tahun 2025, peningkatan dari tahun 2020 yaitu ranking 85. Tetapi ranking ini sangat dipengaruhi dengan perkembangan negara-negara lain dalam menyelesaikan persoalan penyetaraan jendernya.
Apa saja indikator global gender gap?
Indeks ini melihat kesenjangan jender dalam 4 dimensi utama:
1. Ekonomi melalui partisipasi kerja, peluang dan karier.
2. Pendidikan melalui akses terhadap pendidikan dan capaian jenjang pendidikan
3. Kesehatan melalui akses terhadap layanan kesehatan dan harapan hidup
4. Politik melalui kepemimpinan perempuan sebagai kepala negara, di parlemen maupun di Kementerian.
Di Asia dan Pasifik (termasuk Indonesia) gap yang masih besar adalah pada representasi perempuan dalam politik yang masih menyisakan pekerjaan rumah sebesar 84,7%
Beberapa Hal Yang Indonesia Sudah Bagus
Kalau kita melihat sekeliling kita, tidak sulit menemukan perempuan Indonesia yang berprestasi seperti lulus kuliah, mengelola usaha, membangun karier. Bahkan banyak yang menjadi tulang punggung keluarga, menjadi aktivis, menjadi konselor. Jadi sebenarnya sudah banyak perempuan Indonesia yang punya kompetensi kuat dan resiliensi yang luar biasa. Perempuan Indonesia sangat adaptif dan resilien di level keluarga dan komunitas. Dalam situasi ekonomi yang fluktuatif, tekanan biaya hidup, sampai risiko sosial, perempuan memastikan anak tetap sekolah, mengatur kebutuhan rumah, menjaga kesehatan keluarga, mengelola emosi dan konflik dan bahkan tetap berpenghasilan. Ini adalah salah satu kepemimpinan perempuan yang nyata di unit terkecil masyarakat. Yang terakhir, menurut saya kesadaran publik makin maju, isu jender dibicarakan lebih terbuka. Seperti Broken Strings setelah buku tersebut dipublikasikan dengan gratis, terjadi dinamika sosial sebagai respon sosial terhadap isu child grooming dan kekerasan lainnya terhadap anak perempuan. Isu kesetaraan jender semakin sering dibahas di ruang publik, kantor, komunitas bahkan media sosial. Ini bagus karena perubahan sosial selalu dimulai dari kesadaran bahwa masalah itu ada dan harus diperbaiki.
Pekerjaan Rumah Tersisa
Kalau ingin dibuatkan daftar masalah, mungkin tidak akan cukup disini. Tetapi beberapa hal yang mencolok antara lain gender pay gap di Indonesia, keamanan kerja dan relasi kuasa di tempat kerja (masih banyak pelecehan seksual di tempat kerja), perkawinan anak masih terjadi di Indonesia dan lain-lain. Jika kita ingin memperbaikinya, kita bisa memulai dari diri kita sendiri seperti sudahkah kita memastikan ada kebijakan anti pelecehan dan jalur pelaporan aman di tempat kerja, adanya transparansi promosi dan jalur karier bagi semua orang, mentoring & sponsorship bagi perempuan potensial, fleksibilitas kerja berbasis output dan bukan jam hadir, memastikan tidak ada perbedaan dalam pembayaran upah antara laki-laki dan perempuan dan lain sebagainya.
Akhirnya, kesetaraan gender bukan hanya tentang angka dan peringkat. Ini tentang memastikan bahwa setiap perempuan memiliki ruang yang aman dan adil untuk belajar, bekerja, memimpin, serta menentukan arah hidupnya. Ketika kesempatan dibuka dan sistem diperbaiki, kita tidak hanya menguatkan perempuan kita menguatkan masa depan bangsa. Karena suara perempuan adalah kekuatan bangsa — Vox mulierum, Vis nationis.
Referensi:
Bimakini. (2025, May 24). Viral kasus perkawinan anak di Lombok, ini respon aktivis perempuan NTB.
CNBC Indonesia. (2025, March 10). Gender pay gap nyata: Pekerja perempuan digaji 11% lebih rendah.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2025, May 29). Perkawinan usia anak di Lombok Tengah, pelanggaran serius hak anak.
Metro TV News. (2025, November 13). Tiga karyawan TransJakarta korban dugaan pelecehan atasan masih trauma.
World Economic Forum. (2025). Global gender gap report 2025. World Economic Forum. https://www.weforum.org/publications/global-gender-gap-report-2025/