Keprihatinan dan dukacita yang mendalam untuk korban, keluarga dan sanak saudara korban tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line Cikarang pada Senin malam 27 April 2026. Saya tidak bisa membayangkan kengerian yang dihadapi oleh para korban pada saat tragedy tersebut terjadi. Para perempuan yang seharusnya sudah waktunya untuk pulang ke rumah dari tempat kerjanya untuk melepas Lelah, ternyata harus pulang selamanya. Tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya anak, suami, kakak-adik, orang tua, keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Saya turut berduka cita dan merasa keprihatinan yang luar biasa terhadap tragedy ini yang menurut pembaruan terakhir Kementerian Perhubungan dan PT. KAI, insiden ini menelan 16 korban jiwa dan lebih dari 80 orang mengalami luka-luka.
Di balik angka-angka tersebut, terdapat satu detail yang menuntut perhatian khusus: gerbong khusus perempuan mengalami kerusakan paling parah. Penumpang di dalamnya menghadapi kesulitan evakuasi karena akses keluar tertutup besi yang melintir, terganjal bangku, dan banyak bagian gerbong yang rusak hebat. Sebuah ruang yang secara konseptual dirancang untuk menjaga keamanan perempuan dari pelecehan justru menjadi titik dengan risiko keselamatan tertinggi pada peristiwa.
Kejadian ini sebenarnya sudah pernah terjadi di Indonesia, Dahlan Iskan berpendapat (Listrik Kereta, n.d.) bahwa mobil mogok tepat di atas rel kereta api merupakan fenomena yang sudah sering terjadi di Indonesia, mengomentari risiko perlintasan kereta api sepetak yang seharusnya sudah bisa dimitigasi dengan tepat bukan semata-mata dengan memindahkan gerbong khusus perempuan ke tengah dan mengorbankan gerbong umum dengan penumpang dari gender laki-laki.
Terdorong rasa ingin tahu tentang bagaimana kita memahami keselamatan perempuan di ruang publik, saya melakukan penelitian kecil. Wacana keselamatan perempuan di transportasi publik didominasi oleh isu pelecehan seksual dan respon kebijakannya pun sering bersifat segregatif (gerbong khusus, halte khusus, bus transjakarta pink). Tragedi Bekasi Timur menyingkap bahwa pendekatan ini, jika tidak diintegrasikan ke dalam paradigma keselamatan yang lebih holistic dapat menciptakan kerentanan jenis baru.
Ada paradoks ruang aman (safe space paradox) yaitu ruang yang dikonstruksi sebagai pelindung dari satu kategori risiko (kekerasan berbasis gender), menjadi risiko pada kategori lain (kecelakaan operasional).
Sebenarnya, gerbong khusus perempuan di KRL Jabodetabek ternyata sama seperti halnya di Tokyo, Kairo, Mumbai dan Mexico City lahir dari pengakuan bahwa transportasi publik bukan ruang netral gender (Ceccato et al., 2024). Karena pelecehan seksual di moda transportasi merupakan fenomena harian yang dialami perempuan dan anak perempuan khususnya di negara-negara berkembang (Mchunu et al., 2025). Menurut sebuah teori yang mempelajari tentang pencegahan kejahatan melalui desain lingkungan (Wen et al., 2025), gerbong khusus perempuan menciptakan wilayah yang secara visual dan sosial menandai ruang aman. Namun kelemahan dari teori ini adalah cenderung memprioritaskan pencegahan kejahatan dan mengabaikan keselamatan dari bahaya lainnya yang tidak terkait dengan kriminalitas (kecelakaan, kebakaran, gempa). Jadi hasilnya adalah ruang yang aman dari satu ancaman tetapi rentan terhadap ancaman lainnya. Aguilar et al. (2021) dalam penelitiannya tentang sistem subway Mexico City menunjukkan dua sisi kebijakan segregasi tersebut. Di satu sisi, program ini menurunkan pelecehan seksual terhadap perempuan sekitar 2,9%. Di sisi lain, program ini memunculkan kenaikan kekerasan lainnya antar laki-laki sebesar 15,35% di gerbong umum. Gokasar & Başaran (2025) memperdalam kritik dari perspektif ekuitas gender. Mereka berargumen bahwa kebijakan kendaraan khusus perempuan dapat:
- Memperkuat segregasi struktural namun tidak menyelesaikan akar masalah
- Menempatkan beban perlindungan pada perempuan yang harus memilih gerbong yang benar
- Tidak mengakomodasi penumpang LGBTQI+ yang justru sering menjadi target kekerasan
- Berisiko menyalahkan korban yang mengalami pelecehan di luar gerbong khusus tersebut.
REFLEKSI
Sehingga dari pengamatan saya yang sangat terbatas ini, ada beberapa rekomendasi yang secara personal saya dapatkan dan ingin saya bagikan:
- Desain gerbong khusus perempuan ke depan tidak boleh hanya dievaluasi dari aspek pencegahan pelecehan, tetapi juga harus memenuhi standar keselamatan dari kecelakaan, seperti menyediakan kemudahan jalur evakuasi yang sama dengan gerbong lain dalam rangkaian.
- Penerapan pendekatan trauma-informed transit planning, mengintegrasikan kebutuhan psikologis penumpang ke dalam desain sistem termasuk mekanisme pelaporan real-time, jalur informasi yang jelas saat darurat dan pendampingan psikososial pasca insiden yang berkelanjutan.
- Pemetaan risiko operasional dan teknis yang terus menerus diadakan, yang secara eksplisit memasukkan dimensi gender dalam analisis dampak.
- Mekanisme partisipatif yang melembagakan suara perempuan pengguna transportasi dalam siklus evaluasi keselamatan.
Mudah-mudahan, insiden kecelakaan perkeretaapian ini adalah yang terakhir di Indonesia. Transportasi publik sudah sangat maju di Indonesia, dan semoga kita juga bisa mengantisipasi risiko kecelakaan transportasi umum dengan tepat.
LITERATUR
Aguilar, A., Gutiérrez, E., & Villagrán, P. S. (2021). Benefits and unintended consequences of gender segregation in public transportation: Evidence from Mexico City’s subway system. Https://Doi.Org/10.1086/707421, 69(4), 1379–1410. https://doi.org/10.1086/707421
Gokasar, I., & Başaran, G. G. (2025). The Effects of Public Transit in Vehicle Safety Measures for Women on Gender Equity. Journal of Operations Intelligence, 3(1), 149–160. https://doi.org/10.31181/jopi31202540
Listrik Kereta. (n.d.). Retrieved April 30, 2026, from https://disway.id/catatan-harian-dahlan/944137/listrik-kereta
Mchunu, G. G., Kuupiel, D., Ncama, B. P., Isike, C., Kistan, M., Pillay, J. D., & Duma, S. E. (2025). Public transport systems and safety of female commuters in low-and-middle-income countries: a systematic scoping review. BMC Women’s Health, 25(1), 264-. https://doi.org/10.1186/S12905-025-03821-0/TABLES/4Wen, Y., Qi, H., Long, T., & Zhang, X. (2025). Designed for safety: characteristics and trends in crime prevention through environmental design research. Journal of Asian Architecture and Building Engineering, 24(4), 3108–3126. https://doi.org/10.1080/13467581.2024.2366823/ASSET/16460CD9-303C-4B75-9634-B5F314713076/ASSETS/GRAPHIC/TABE_A_2366823_F0007_OC.JPG